GEBYAR MILAD MAN 2 KOTA BEKASI

Agenda tahunan yang dilaksanakan untuk memeriahkan Milad MAN 2 KOTA BEKASI dan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

LDKR (Latihan Dasar Kepemimpinan Rohis)

Kegiatan untuk melatih dan membangkitkan jiwa kepemimpinan bagi anggota Rohis MAN 2 Kota Bekasi.

Nasyid Asma Voice

Sebuah Tim Nasyid yang Bergenre Acapella.

Masa Orientasi Siswa Tahun 2012

Sebuah agenda yang rutin dilaksanakan untuk menjaring anggota-anggota baru.

Latihan Dasar Kepemimpinan Rohis 2014

Agenda rutin yang dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan bagi seluruh anggota Rohis.

Jumat, 17 Januari 2014

Tipu Daya Setan




Setan adalah musuh bebuyutan manusia. Nabi Adam, bapak manusia, harus keluar dari surga karena tergoda oleh bujuk rayuannya (Al-Baqarah: 36). Dikatakan, setan akan memukul dan meyerang manusia dari segala arah, sehingga manusia tak berdaya dan menjadi kufur kepada Allah. ''Kemudian saya (setan/iblis) akan mendatangi mereka (manusia) dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur/taat.'' (Al-A'raf: 17). 

Diingatkan agar umat Islam tidak mudah mengikuti langkah-langkah setan. ''Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.'' (Al-Baqarah: 168). 

Banyak cara yang dilakukan setan untuk menyesatkan manusia. Pertama, menjanjikan kemiskinan, sehingga manusia menjadi kikir (Al-Baqarah: 268). Kedua, menyuruh pada kejahatan, sehingga manusia lupa kebaikan. Ketiga, menciptakan permusuhan di antara sesama manusia, sehingga konflik dan perang terjadi di mana-mana (Al-Maaidah: 14). Keempat, meniupkan angan-angan kosong, sehingga manusia malas berusaha dan bekerja keras (An-Nisa': 20). 

Itulah berbagai tipu daya setan untuk mengganggu dan menjerumuskan manusia ke lembah kehinaan. Dalam kitab Ihya' 'Ulum al-Din, Imam Ghazali menggambarkan hati orang mukmin ibarat sebuah benteng, sedangkan setan ibarat musuh yang akan merobohkan benteng itu. Maka untuk menjaga dan menyelamatkan benteng itu, kata Ghazali, orang mukmin harus menutup semua jalan masuk atau akses menuju benteng, sehingga setan tak dapat mendekat dan menguasainya. 

Namun, lanjut Ghazali, tak mungkin seseorang bisa menutup akses ke benteng itu bila tidak mengetahui jalan masuk atau pintu-pintunya. Ini berarti, tugas pertama yang harus dilakukan adalah mengenali pintu-pintunya, lalu menutupnya rapat-rapat sehingga musuh tidak bisa mendekat karena kehilangan akses. Di antara pintu-pintu yang harus dikenali itu, menurut Ghazali, adalah pintu amarah dan syahwat, pintu dengki dan iri hati, pintu makan minum secara berlebihan, pintu cinta dunia, pintu tergesa-gesa, dan pintu buruk sangka kepada sesama umat Islam. 

Dalam ilustrasi lain, Ghazali menggambarkan setan seperti anjing kelaparan yang selalu mendekat. Kalau hati kita kotor, dalam arti banyak ''santapan setan'' di dalamnya, maka ia akan terus menyerang. Ia tidak akan lari hanya dengan gertakan atau dengan membaca ta'awwuz atau hawqalah. Tapi, kalau hati kita bersih, maka dengan hanya menyebut asma Allah, ia sudah lari terbirit-birit. 

Jadi, tipu daya setan sesungguhnya tidak berpengaruh bagi orang takwa yang jiwa dan hatinya bersih. Firman Allah, ''Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuatannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.'' (Al-Nahl: 99). Wallahu a'lam!

Kamis, 16 Januari 2014

Agar Muslimah Tetap Cantik



Agar wajah selalu segar, berseri-seri dan cantik, cucilah minimal 5 kali sehari yaitu dengan air wudhu. Jangan langsung dikeringkan oleh handuk, biarkan menetes dan kering sendiri. Lalu ambillah sajadah, shalat, berdzikir, dan berdo'a.

Untuk menghilangkan stress, salah satu penyebab kerut di wajah, perbanyaklah 'olah raga'. Jika tidak ada waktu untuk pergi ke studio fitness, spot-gym, dan lain-lain. Cukup dengan memperbanyak sholat. Dengan sholat berarti kita menggerakan seluruh tubuh. Konsultasikan semua keluh kesah kita pada Zat Yang Maha Tahu -Allah SWT dengan dzikir dan do'a-.

Untuk pelembab, agar awet muda, gunakanlah senyum. Tidak hanya di bibir tapi di hati juga. Katakan pada diri sendiri anda adalah cantik dan tidak memerlukan segala macam operasi plastik. Tidak lupa membisikan 'kata kunci' "Allahuma kamma hassanta khalgii fahassin khulqii" (Ya Allah sebagaimana engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pula ahlaq ku). (HR Ahmad).

Untuk mendapatkan bibir cantik, bisikan kalimat-kalimat Allah, tidak berkata bohong, atau menyakiti hati orang lain, tidak dipakai menyombongkan diri atau takabur.

Agar tubuh langsing, singset dan mulus, lakukan diet yang teratur yaitu dengan berpuasa seminggu 2 kali, Senin dan Kamis. Jika kuat, lebih bagus lagi berpuasa seperti nabi Daud AS. Makanlah makanan halal, perbanyak sayuran, buah-buahan, air putih.

Untuk mengembangkan diri, sebarkan salam dan sapaan. Dengan demikian kita akan banyak dikenal dan disayangi. [boemi-islam.com](eko)

Ibadan Tanpa Ilmu



Oleh : KH Didin Hafidhuddin

Dalam perspektif ajaran Islam, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat berharga yang menentukan kualitas seseorang atau suatu bangsa. Suatu bangsa akan menjadi bangsa yang maju, modern, dan berperadaban, manakala masyarakatnya mencintai ilmu, antara lain, ditandai dengan kebiasaan bertanya dan menulis. 

Betapa pentingnya suatu pertanyaan untuk membuka ilmu pengetahuan, sampai-sampai Rasulullah SAW menyatakan, ''Ilmu itu ibarat harta yang terpendam, dan kunci untuk menggalinya adalah kesediaan untuk bertanya. Karena itu, bertanyalah kamu sekalian hal-hal yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya dalam proses tanya jawab akan diberikan pahala oleh Allah pada empat kelompok, yaitu: orang yang bertanya, orang yang menjawab, orang yang mendengarkan, dan orang yang mencintai mereka.'' (HR Abu Nu'aim dari Ali bin Abi Thalib). 

Orang yang berkesempatan mencari ilmu, tetapi tidak mau memanfaatkannya, sehingga ia tetap berada dalam kebodohannya, dianggap orang yang paling akan merugi kelak kemudian hari. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadis Rasulullah SAW riwayat Ibn Assakir dari Anas bin Malik. Terlebih lagi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ibadah-ibadah (khusus) yang kita lakukan dalam rangka melaksanakan kewajiban kita pada Allah SWT, seperti shalat, puasa, dan ibadah haji. Karena ibadahnya orang yang bodoh (sama sekali tidak memiliki pengetahuan terhadap apa yang dikerjakannya) bukan saja tidak hanya akan ditolak oleh Allah SWT, tetapi juga dianggap sebagai penyakit agama yang sangat berbahaya. 

Apalagi kesalahan yang dilakukannya secara sadar dan sengaja, dan disebarkan kepada orang lain. Misalnya, khutbah Jumat yang dilakukan oleh seorang perempuan dengan mengatasnamakan persamaan gender dan emansipasi dan bacaan dalam shalat yang disertai terjemahannya dengan mengatasnamakan untuk kekhusyukan dan kesyahduan, mencerminkan kebodohan para pelakunya terhadap kegiatan ibadah khusus tersebut. Dalam ibadah-ibadah khusus itu terdapat suatu kaidah yang menyatakan: Ketahuilah olehmu segala yang diperintahkan. Dan jangan mengerjakan kecuali yang diperintahkan tersebut. Tugas kita dalam bidang ibadah adalah sami'na wa atho'na (kami mendengar dan kami menaati) dan ittiba (mengikuti apa yang dicontohkan Rasul). 

Dalam hal shalat misalnya, Rasulullah bersabda, ''Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.'' Jika seseorang atau sekelompok orang mengerjakan ibadah khusus seperti shalat dengan menambah-nambah sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya atau mengurangi sesuatu yang telah ditetapkan, maka dianggap melakukan perbuatan bid'ah yang menyesatkan, sebagaimana dinyatakan dalam HR Imam Bukhori dan Muslim dari Siti Aisyah, Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa yang membuat hal-hal yang baru dalam urusan ibadahku ini, maka hukumnya tertolak.''Semoga kita semua terus-menerus mau belajar menambah ilmu pengetahuan, sehingga terhindar dari pekerjaan dan ibadah yang dianggap sia-sia dan ditolak oleh Allah SWT, dan membahayakan kehidupan kaum Muslimin secara luas. 

Kamis, 19 September 2013

Jangan Menyerah


Seorang anak muda berbicara dengan gurunya. Ia bertanya, "Guru, bisakah engkau tunjukkan dimana jalan menuju sukses ?" Uhm....., Sang guru terdiam sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Anak muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan sang guru. Ia tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan. Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba ia berseru, "Ha! Ini jalan buntu!" Benar, di hadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Ia terpaku kebingungan, "Barangkali aku salah mengerti maksud sang guru."

Kembali, Anak muda itu berbalik menemui sang guru untuk bertanya sekali lagi, "Guru, yang manakah jalan menuju sukses." Sang guru tetap menunjuk ke arah yang sama. Anak muda itu kembali berjalan ke arah itu lagi. Namun yang ditemuinya tetap saja sebuah tembok yang menutupi. Ia berpikir, ini pasti hanya gurauan. Dan anak muda itupun merasa dipermainkan.
 
Emosi dan dengan penuh amarah ia menemui sang guru, "Guru, aku sudah menuruti petunjukmu. Tetapi yang aku temui adalah sebuah jalan buntu. Aku tanyakan sekali lagi padamu, yang manakah jalan menuju sukses? Kau jangan hanya menunjukkan jari saja, bicaralah!" Sang guru akhirnya berbicara, "Di situlah jalan menuju sukses. Hanya beberapa langkah saja di balik tembok itu."

Siapa bilang tembok adalah tujuan akhir?

Selasa, 27 Agustus 2013

Generasi Yang Kembali


dakwatuna.com - “Tidak ada kebaikan bagi bumi ini, tidak ada ketenangan bagi manusia ini, tidak ada ketinggian, keberkahan dan kesucian , dan tidak pula keseimbangan dengan hukum-hukum semesta dan fitrah kehidupan , kecuali dengan kembali kepada Allah”

Seberkas kalimat itu tertulis oleh As-Syahid Sayyid Quthb dalam muqaddimah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Namanya juga Sayyid Quthb, ia selalu mengambil judul yang unik dan istimewa,Dalam Naungan Qur’an, nama yang indah untuk sebuah Tafsir. Iya kan?

Saat itu, Ustad Pendiam yang Ahli Sastra tersebut benar-benar mencurahkan perhatiannya, dari fokus Sastra Qur’an menjadi fokus Pemikiran dan Sistem Islam. Pilihan yang tentu memuat konsekuensi , karena saat itu pemikiran di Mesir benar-benar warna-warni, ada corak komunis, liberal, corak-corak nasionalis hingga yang islamis.

Allah, semua umat manusia mengucapkan nama-Nya. Itu pasti. Allah-lah sumber Hukum segala-gala. Dia-lah Al-Hakim, sesuai pelajaran Ushul Fiqh, Allah-lah muara segala kebijakan dan tata aturan alam raya yang terus bergerak tanpa henti. Sungguh Allah adalah Maha Inspirasi tiada tara.

Kutipan kalimat paling atas tadi adalah bukti bahwa Sayyid Quthb paham betul kondisi ummat pasca keruntuhan Khilafah Utsmani itu, setelah dicakar-cakar Inggris dalam Perjanjian Sevres, Turki hanya segelintir wilayah Asia kecil, yang lainnya di bagi-bagi ke tiran tak bertanggungjawab. Maka beliau menemukan obat mujarab yang sudah membuat generasi sebelumnya menang gemilang ; kembali pada Allah. Tak ada yang lain!

Memang, seiring berjalan waktu, manusia lupa. Seiring Berjaya sebuah peradaban, manusia lalai. Terpujilah generasi islam Yang Istimewa didikan Rasulullah yang memulai peradaban, memerjuangkannya dengan peluh dan darah, hingga madinah yang mungil itu menjelma kota sejuta cinta dan inspirasi. “Bangsa Arab yang menggembala domba itu kini telah menjadi kekuatan besar!”, begitulah statement Kisra terakhir Persia.

Lalu berlanjut dinasti  Abbasiyah, Seljuk, Muwahhidun, Mamluk, Ayyubiyah, sampai Utsmani. Kesemuanya mengalami pasang surut supremasi. Begitu hebatnya generasi islam ketika dalam pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi, beliau mengumpulkan kaum muslimin dalam satu kesatuan, lalu bersama menggempur kekuatan crusader di jantung Tiberias ,Accre, hingga Jerussalem.

Kuncinya bukan muluk-muluk, Shalahudin hanya sering memotivasi tentaranya untuk memperbanyak ibadah sunnah, sholat malam dan dzikir pagi-sore.

Maka, ketika sebuah generasi kembali kepada Allah, terjadilah ledakan besar dalam sejarah. Kemenangan datang silih berganti, ekonomi rakyat tercukupi, industri dan teknologi pesat menjadi-jadi.

Tersebutlah lagi kisah Al-Fatih, ketika beliau menginspeksi pasukannya, bukan menanyakan tentang kelengkapan senjata atau ketajaman pedang, bukan. Ia menanyakan sesuatu yang kata orang biasa tak ada hubungan dengan masalah militer, “Siapa diantara kalian yang meninggalkan shalat malam?”

Luarbiasa.
Begini Salim A.Fillah mencuplik kegemilangan generasi emas itu,
Maka gemuruhlah Makkah dan Madinah oleh lantunan takbir dan talbiyah,
ketika sunyi membungkam Roma dan Konstatinopel dalam kekakuan dogma.
Maka hangatlah diskusi-diskusi di Basrah dan Kufah,
saat Genoa dan Venesia dihantui inkuisisi.
Maka bersinarlah perpustakaan Kairo,
ketika para dukun komat-kamit di kegelapan Lissabon.
Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat di semarak malam,
ketika Paris gulita sejak senja dalam takhayul dan mitos.
Maka gemericiklah air mancur Damaskus dalam kesucian thaharah,
ketika bangsawan di London menganggap mandi adalah aktivitas berbahaya.
Maka berdengunglah ayat-ayat Allah menjelang buka puasa dengan sajian kurma, yogurt, serta buah segar di balkon-balkon pualam Cordoba dan Granada,

ketika saat Kathedral di Wina dan Bern menutup makan malam dengan pudding darah babi.
Kawan pernah mendengar sebuah kisah hebat dari Spanyol? Subhanallah, setelah Tariq bin Ziyad membuka gerbang kemenangan di abad ke 8, Wilayah itu berubah dari semenanjung kumuh nan sedih menjadi bunga yang mekar indah diantara rumput ilalang eropa.

Namun kaum kafir tidak tinggal diam.

Terutuslah mata-mata untuk mempelajari seluk beluk Spanyol yang telah berubah mejadi super power di eropa itu. Ia menemukan seorang pemuda menangis di bawah pohon, sesenggukan. Hal itu membuatnya ingin menanyakan sebab mengapa pemuda itu menangis.
“Kenapa kau menangis?”

“Aku menangis karena kehilangan kesempatan untuk berjihad bersama tentara muslimin…hiks…hiks…”

Mata-mata itu terperanjat, segera ia kembali ke markasnya menuju Istana Kaum Kafir di Perancis. Dan apa kesimpulannya atas apa yang dia lihat di Spanyol tadi?
“Tuan, saat ini kita tidak akan bisa mengalahkan kaum muslimin!”

Kaum kafir Gusar, namun bukan syaithan kalau tidak bertipu muslihat. Mulailah mereka menggunakan alternatif baru untuk menggerus semangat juang pemuda di tanah Spanyol dengan segala upaya; mendistribusikan rokok dan bir gratis, memperkenalkan alat musik hingga anak mudanya lebih suka bernyanyi dan menari ketimbang menyimak Al-Qur’an, dan mengirim ulama palsu untuk meniupkan perpecahan diantara kaum muslimin disana.
Tibalah beberapa tahun berikutnya, Mata-mata ini kembali ke Tanah Spanyol dan menyelidiki hasil dari usaha mereka untuk meruntuhkan semangat juang kaum muslimin. Maka, dilihatnya seorang pemuda menangis di bawab pepohonan rindang, sesenggukan. Mata-Mata ini menanyakan pada pemuda itu sebab ia menangis.

“Kenapa kau menangis?”
“Aku ditinggal kekasihku… hiks…hiks…”
Maka tertawalah ia dalam hati, kembali dengan dada terbusung, dan melaporkan pada Tuannya apa yang telah dia lihat sekarang.

“Tuan, sekaranglah saat yang tepat untuk merebut spanyol!”

Dan terjadilah insiden berdarah pada tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H. Pasukan Kafir membantai puluhan ribu kaum muslimin dan Yahudi di Spanyol. Terlalu tragis untuk dikisahkan.

Musuh Islam pun paham siapa yang mereka hadapi, pemuda yang ia temui di awal penyelidikan menangis karena ketinggalan seruan jihad, ia menangis karena tak bisa ikut berjuang membela Agama Allah. Itu pertanda bahwa Generasi Islam saat itu begitu dekat dan harmonis dengan Alah. Sedang peristiwa yang kedua, seorang pemuda menangis karena ia ditinggal kekasihnya, ia dikuasai oleh sakit hati yang rapuh dan lemah. Indikasi itu membuat Musuh terbahak-bahak dan siap melancarkan serangannya.

Begitulah Sejarah bicara tentang Generasi yang silih berganti, mari mengambil kesimpulan;
Siapa yang kembali pada Allah, pasti Berjaya!
Siapa yang jauh dari Allah, pasti Jatuh Merana!
Maka sekali lagi, kutipan Sayyid Quthb mungkin bisa jadi referensi kita untuk menata diri,
“Tidak ada kebaikan bagi bumi ini, tidak ada ketenangan bagi manusia ini, tidak ada ketinggian, keberkahan dan kesucian , dan tidak pula keseimbangan dengan hukum-hukum semesta dan fitrah kehidupan , kecuali dengan kembali kepada Allah”

Dan abadilah firman Allah yang digaungkan keras pada Pejuang, yang dirindukan para Pencari Makna kehidupan, beginilah Allah memberi jaminan,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)
Allah dulu, Allah lagi, Allah Terus.