GEBYAR MILAD MAN 2 KOTA BEKASI

Agenda tahunan yang dilaksanakan untuk memeriahkan Milad MAN 2 KOTA BEKASI dan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

LDKR (Latihan Dasar Kepemimpinan Rohis)

Kegiatan untuk melatih dan membangkitkan jiwa kepemimpinan bagi anggota Rohis MAN 2 Kota Bekasi.

Nasyid Asma Voice

Sebuah Tim Nasyid yang Bergenre Acapella.

Masa Orientasi Siswa Tahun 2012

Sebuah agenda yang rutin dilaksanakan untuk menjaring anggota-anggota baru.

Latihan Dasar Kepemimpinan Rohis 2014

Agenda rutin yang dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan bagi seluruh anggota Rohis.

Sabtu, 18 Januari 2014

Menjaga Aurat



Oleh : Fajar Kurnianto

Suatu ketika, Rasulullah Saw ditanya oleh seorang laki-laki, ''Wahai Rasulullah, apa yang seharusnya kami lakukan dan apa yang harus kami jauhi dari masalah aurat?''  Mendengar pertanyaan ini, Rasulullah Saw kemudian menjawab, ''Peliharalah auratmu kecuali kepada kepada istri-istrimu dan para budak yang ada dalam penguasaanmu.''  Lelaki itu bertanya lagi, ''Lalu bagaimanakah jika antara dua orang laki-laki?'' Rasulullah menjawab, ''Kalau engkau mampu untuk tidak melihatnya (melihat auratnya) maka lakukakanlah.''  Laki-laki itu bertanya lagi, ''Lalu kalau ia dalam keadaan sendiri?'' Untuk yang terakhir kalinya Rasulullah menjawab, ''Kalau demikian, maka Allah lebih berhak untuk dimalui (HR Tirmizi).

Dalam dialog itu, kita dapat mengambil beberapa hikmah yang coba disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam kaitannya dengan usaha atau upaya menjaga aurat agar jangan sampai aurat itu diumbar seenaknya di depan khalayak ramai dengan berbagai dalih apa pun jua.

Pertama, menjaga aurat manusia adalah suatu hal yang mesti, karena ia sangat berkaitan dengan aib atau cela manusia. Menurut asal katanya, aurat berarti cela atau aib ataupun kekurangan pada diri manusia yang seharusnya dijaga dan disembunyikan agar tidak sampai terlihat oleh orang lain yang dikhawatirkan akan menimbulkan hal-hal negatif dalam kehidupan sosialnya.

Karena, terkadang segala bentuk kejahatan itu bersumber dari aurat manusia yang diumbar tak terkendali. Kita banyak mendengar ataupun membaca di berbagai media massa kasus-kasus perkosaan, misalnya, berawal dari melihat aurat orang lain sehingga membangkitkan nafsu bejatnya.
Ataupun, segala bentuk tarian erotis yang mengundang atau mengarah pada hal-hal negatif, atau minimal menjadi fantasi yang suatu saat ingin dilampiaskan pada orang lain. Karenanya, segala bentuk pornografi dalam bentuk pengumbaran aurat itulah sesungguhnya menjadi salah satu biang kerok yang pada akhirnya akan membawa manusia pada berbagai tindak kejahatan.

Kedua, bahwasanya aurat itu hanya diperuntukkan atau diperbolehkan untuk diperlihatkan kepada para istri atau suaminya. Ini menunjukkan bahwasannya kerukunan rumah tangga akan terwujud jikalau di antara anggota keluarga mampu memelihara auratnya sebaik mungkin, jangan sampai aurat itu diperlihatkan pada keluarga lain, karena bisa jadi itu akan menimbulkan fitnah di antara mereka.

Ketiga, Rasulullah Saw sangat perhatian terhadap hal-hal yang dalam pandangan manusia dianggap remeh, namun itu sesungguhnya besar. Seperti masalah aurat, meskipun tampak remeh, namun ia memiliki akibat yang luar biasa besarnya kalau ditunjukkan secara bebas pada manusia lain, yang memiliki keimanan yang tidak sama.

Karenanya, sebagai tindakan antisipatif, Rasulullah Saw jauh-jauh hari sudah memperingatkan manusia untuk menjaga auratnya masing-masing. Betapa pentingnya menjaga aurat, sampai-sampai sekiranya seseorang itu dalam keadaan sendirian, tidak ada yang melihatnya ataupun memperhatikannya, maka sesungguhnya pada waktu itu Allah SWT melihatnya.

Inilah pesan yang ingin disampaikan oleh Rasulullah Saw kepada seluruh umat manusia, untuk berperilaku dan berbuat dalam kehidupan sosialnya sebagai manusia yang bermoral, bukan manusia yang berperilaku hewan, yang tidak mengenal sama sekali apa itu adab, apa itu moral, yang dipikirkan hanya bagaimana untuk makan dan kejayaan walaupun itu ditempuh dengan cara-cara yang amoral.

Jumat, 17 Januari 2014

Tipu Daya Setan




Setan adalah musuh bebuyutan manusia. Nabi Adam, bapak manusia, harus keluar dari surga karena tergoda oleh bujuk rayuannya (Al-Baqarah: 36). Dikatakan, setan akan memukul dan meyerang manusia dari segala arah, sehingga manusia tak berdaya dan menjadi kufur kepada Allah. ''Kemudian saya (setan/iblis) akan mendatangi mereka (manusia) dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur/taat.'' (Al-A'raf: 17). 

Diingatkan agar umat Islam tidak mudah mengikuti langkah-langkah setan. ''Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.'' (Al-Baqarah: 168). 

Banyak cara yang dilakukan setan untuk menyesatkan manusia. Pertama, menjanjikan kemiskinan, sehingga manusia menjadi kikir (Al-Baqarah: 268). Kedua, menyuruh pada kejahatan, sehingga manusia lupa kebaikan. Ketiga, menciptakan permusuhan di antara sesama manusia, sehingga konflik dan perang terjadi di mana-mana (Al-Maaidah: 14). Keempat, meniupkan angan-angan kosong, sehingga manusia malas berusaha dan bekerja keras (An-Nisa': 20). 

Itulah berbagai tipu daya setan untuk mengganggu dan menjerumuskan manusia ke lembah kehinaan. Dalam kitab Ihya' 'Ulum al-Din, Imam Ghazali menggambarkan hati orang mukmin ibarat sebuah benteng, sedangkan setan ibarat musuh yang akan merobohkan benteng itu. Maka untuk menjaga dan menyelamatkan benteng itu, kata Ghazali, orang mukmin harus menutup semua jalan masuk atau akses menuju benteng, sehingga setan tak dapat mendekat dan menguasainya. 

Namun, lanjut Ghazali, tak mungkin seseorang bisa menutup akses ke benteng itu bila tidak mengetahui jalan masuk atau pintu-pintunya. Ini berarti, tugas pertama yang harus dilakukan adalah mengenali pintu-pintunya, lalu menutupnya rapat-rapat sehingga musuh tidak bisa mendekat karena kehilangan akses. Di antara pintu-pintu yang harus dikenali itu, menurut Ghazali, adalah pintu amarah dan syahwat, pintu dengki dan iri hati, pintu makan minum secara berlebihan, pintu cinta dunia, pintu tergesa-gesa, dan pintu buruk sangka kepada sesama umat Islam. 

Dalam ilustrasi lain, Ghazali menggambarkan setan seperti anjing kelaparan yang selalu mendekat. Kalau hati kita kotor, dalam arti banyak ''santapan setan'' di dalamnya, maka ia akan terus menyerang. Ia tidak akan lari hanya dengan gertakan atau dengan membaca ta'awwuz atau hawqalah. Tapi, kalau hati kita bersih, maka dengan hanya menyebut asma Allah, ia sudah lari terbirit-birit. 

Jadi, tipu daya setan sesungguhnya tidak berpengaruh bagi orang takwa yang jiwa dan hatinya bersih. Firman Allah, ''Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuatannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.'' (Al-Nahl: 99). Wallahu a'lam!

Kamis, 16 Januari 2014

Agar Muslimah Tetap Cantik



Agar wajah selalu segar, berseri-seri dan cantik, cucilah minimal 5 kali sehari yaitu dengan air wudhu. Jangan langsung dikeringkan oleh handuk, biarkan menetes dan kering sendiri. Lalu ambillah sajadah, shalat, berdzikir, dan berdo'a.

Untuk menghilangkan stress, salah satu penyebab kerut di wajah, perbanyaklah 'olah raga'. Jika tidak ada waktu untuk pergi ke studio fitness, spot-gym, dan lain-lain. Cukup dengan memperbanyak sholat. Dengan sholat berarti kita menggerakan seluruh tubuh. Konsultasikan semua keluh kesah kita pada Zat Yang Maha Tahu -Allah SWT dengan dzikir dan do'a-.

Untuk pelembab, agar awet muda, gunakanlah senyum. Tidak hanya di bibir tapi di hati juga. Katakan pada diri sendiri anda adalah cantik dan tidak memerlukan segala macam operasi plastik. Tidak lupa membisikan 'kata kunci' "Allahuma kamma hassanta khalgii fahassin khulqii" (Ya Allah sebagaimana engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pula ahlaq ku). (HR Ahmad).

Untuk mendapatkan bibir cantik, bisikan kalimat-kalimat Allah, tidak berkata bohong, atau menyakiti hati orang lain, tidak dipakai menyombongkan diri atau takabur.

Agar tubuh langsing, singset dan mulus, lakukan diet yang teratur yaitu dengan berpuasa seminggu 2 kali, Senin dan Kamis. Jika kuat, lebih bagus lagi berpuasa seperti nabi Daud AS. Makanlah makanan halal, perbanyak sayuran, buah-buahan, air putih.

Untuk mengembangkan diri, sebarkan salam dan sapaan. Dengan demikian kita akan banyak dikenal dan disayangi. [boemi-islam.com](eko)

Ibadan Tanpa Ilmu



Oleh : KH Didin Hafidhuddin

Dalam perspektif ajaran Islam, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat berharga yang menentukan kualitas seseorang atau suatu bangsa. Suatu bangsa akan menjadi bangsa yang maju, modern, dan berperadaban, manakala masyarakatnya mencintai ilmu, antara lain, ditandai dengan kebiasaan bertanya dan menulis. 

Betapa pentingnya suatu pertanyaan untuk membuka ilmu pengetahuan, sampai-sampai Rasulullah SAW menyatakan, ''Ilmu itu ibarat harta yang terpendam, dan kunci untuk menggalinya adalah kesediaan untuk bertanya. Karena itu, bertanyalah kamu sekalian hal-hal yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya dalam proses tanya jawab akan diberikan pahala oleh Allah pada empat kelompok, yaitu: orang yang bertanya, orang yang menjawab, orang yang mendengarkan, dan orang yang mencintai mereka.'' (HR Abu Nu'aim dari Ali bin Abi Thalib). 

Orang yang berkesempatan mencari ilmu, tetapi tidak mau memanfaatkannya, sehingga ia tetap berada dalam kebodohannya, dianggap orang yang paling akan merugi kelak kemudian hari. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadis Rasulullah SAW riwayat Ibn Assakir dari Anas bin Malik. Terlebih lagi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan ibadah-ibadah (khusus) yang kita lakukan dalam rangka melaksanakan kewajiban kita pada Allah SWT, seperti shalat, puasa, dan ibadah haji. Karena ibadahnya orang yang bodoh (sama sekali tidak memiliki pengetahuan terhadap apa yang dikerjakannya) bukan saja tidak hanya akan ditolak oleh Allah SWT, tetapi juga dianggap sebagai penyakit agama yang sangat berbahaya. 

Apalagi kesalahan yang dilakukannya secara sadar dan sengaja, dan disebarkan kepada orang lain. Misalnya, khutbah Jumat yang dilakukan oleh seorang perempuan dengan mengatasnamakan persamaan gender dan emansipasi dan bacaan dalam shalat yang disertai terjemahannya dengan mengatasnamakan untuk kekhusyukan dan kesyahduan, mencerminkan kebodohan para pelakunya terhadap kegiatan ibadah khusus tersebut. Dalam ibadah-ibadah khusus itu terdapat suatu kaidah yang menyatakan: Ketahuilah olehmu segala yang diperintahkan. Dan jangan mengerjakan kecuali yang diperintahkan tersebut. Tugas kita dalam bidang ibadah adalah sami'na wa atho'na (kami mendengar dan kami menaati) dan ittiba (mengikuti apa yang dicontohkan Rasul). 

Dalam hal shalat misalnya, Rasulullah bersabda, ''Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.'' Jika seseorang atau sekelompok orang mengerjakan ibadah khusus seperti shalat dengan menambah-nambah sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya atau mengurangi sesuatu yang telah ditetapkan, maka dianggap melakukan perbuatan bid'ah yang menyesatkan, sebagaimana dinyatakan dalam HR Imam Bukhori dan Muslim dari Siti Aisyah, Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa yang membuat hal-hal yang baru dalam urusan ibadahku ini, maka hukumnya tertolak.''Semoga kita semua terus-menerus mau belajar menambah ilmu pengetahuan, sehingga terhindar dari pekerjaan dan ibadah yang dianggap sia-sia dan ditolak oleh Allah SWT, dan membahayakan kehidupan kaum Muslimin secara luas. 

Kamis, 19 September 2013

Jangan Menyerah


Seorang anak muda berbicara dengan gurunya. Ia bertanya, "Guru, bisakah engkau tunjukkan dimana jalan menuju sukses ?" Uhm....., Sang guru terdiam sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Anak muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan sang guru. Ia tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan. Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba ia berseru, "Ha! Ini jalan buntu!" Benar, di hadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Ia terpaku kebingungan, "Barangkali aku salah mengerti maksud sang guru."

Kembali, Anak muda itu berbalik menemui sang guru untuk bertanya sekali lagi, "Guru, yang manakah jalan menuju sukses." Sang guru tetap menunjuk ke arah yang sama. Anak muda itu kembali berjalan ke arah itu lagi. Namun yang ditemuinya tetap saja sebuah tembok yang menutupi. Ia berpikir, ini pasti hanya gurauan. Dan anak muda itupun merasa dipermainkan.
 
Emosi dan dengan penuh amarah ia menemui sang guru, "Guru, aku sudah menuruti petunjukmu. Tetapi yang aku temui adalah sebuah jalan buntu. Aku tanyakan sekali lagi padamu, yang manakah jalan menuju sukses? Kau jangan hanya menunjukkan jari saja, bicaralah!" Sang guru akhirnya berbicara, "Di situlah jalan menuju sukses. Hanya beberapa langkah saja di balik tembok itu."

Siapa bilang tembok adalah tujuan akhir?