Eep Saefulloh Fatah
Publikasi : 11-05-2004
KotaSantri.com Hujan pertama akhirnya jatuh juga. Selepas
musim kemarau yang terlampau panjang, hujan pertama selalu disambut di kampung
kami dengan pesta.
Ketika hujan mulai menderas, anak-anak Kang Soleh
kulihat segera berlarian keluar, bertelanjang dada. Teriakan-teriakan
kegembiraan mereka, gemuruh curahan air dari langit dan gelegar petir,
bercengkrama sahut menyahut di tegalan depan. Ketika hujan mereda, mereka pulang
dengan bibir membiru dan badan menggigil bergetar. Tapi, mata mereka memancarkan
kegembiraan.
Wa Sunta terlihat melintas di jalan desa menggiring dua ekor
kerbau kurusnya. Ketiganya berjalan gontai, tak terlihat tergesa, dipeluk petir
dan hujan. Gambar mereka melamat ketika menjauh. Hujan dan petir dengan akrab
mengantar mereka hingga lenyap diterkam belokan.
Sejak masih gerimis,
Anah, istriku, sudah membopong gentong-gentong air dari dapur, dengan sigap
membawanya keluar. Anah berpesta dengan caranya sendiri. Pada tiap hujan
pertama, ia selalu membersihkan gentong-gentong air kami yang kerontang selama
kemarau, sambil membiarkan dirinya sendiri berlama-lama dicumbu hujan. Lekuk
tubuhnya segera terbentuk oleh baju dasternya yang basah, membuatku tiba-tiba
menginginkan malam segera datang.
Aku sendiri, pada setiap hujan pertama
seperti ini tak pernah lepas dari ritual pesta yang itu-itu juga. Duduk
mencangkung di depan jendela depan. Membuka hidung lebar-lebar membaui tanah
pelataran yang terperawani tetes demi tetes air hujan pembukaan. Menghanyutkan
diri dalam aroma legit bau tanah tersiram air. Ah, sembilan bulan sudah
kurindukan bau ini.
Datangnya musim penghujan membikin kampung kami
siuman dari mati suri panjang. Sejak sungai Cipamingkis ditambang batunya,
digali pasirnya, dan akhirnya mati, sawah-sawah di kampung kami kehilangan
tempat menyusu di musim kering. Semua sawah menjadi tadah hujan saja.
Maka, kemarau adalah bencana. Berita duka yang tak sudi kami dengar tapi
selalu saja tiba. Di setiap kemarau, sawah-sawah mengering, merekah, retak
terbelah-belah. Ketika kemarau berlarut-larut tak berujung, kampung kami
kehilangan akal dan akhirnya hanya berpaling pada sebaris harapan: Semoga hujan
bergegas datang dan membunuh kemarau laknat itu segera.
***
Bagi
guru sepertiku, musim penghujan sebetulnya tak punya terlalu banyak arti.
Bahkan, selalu saja ia menghadiahiku kerepotan-kerepotan baru. Setiap hari,
pergi dari rumah ke SD Inpres di seberang bukit itu, aku mesti menggulung celana
panjangku tinggi- tinggi, tak membiarkan lidah air berlumpur menjilat celanaku.
Celana layak satu-satunya.
Kedua tangangku pun dibuat sibuk. Tangan
kanan menjinjing tas. Tangan kiri, yang terbiasa menganggur, punya pekerjaan
baru: menjinjing sandal. Aku, bak pemain sirkus, mesti menjaga keseimbangan di
sepanjang pematang, bersiasat untuk tak tergelincir tercebur ke sawah berair
berlumput-lumpur.
Kerepotanku tak usai di situ. Sebelum ke kelas atau
ruang guru, aku tentu saja mesti ke parit di belakang gedung sekolah itu.
Mencuci kaki. Menurunkan gulungan celana. Lalu menyematkan sandal ke kedua
kakiku yang kuyup. Betapa merepotkannya jika aku bersepatu.
Ketika sol
sepatuku, sepatu terakhirku, jebol di tengah kemarau tahun lalu, aku sempat
meratapinya. Tapi, ketika musim penghujan seperti ini datang, segera kutahu
bahwa barang mewah semacam itu kadang kala tak punya guna. Di pasar kecamatan,
sepatu termurah saja harganya 20 ribu!
Bersepatu pergi pulang mengajar
di musim penghujan seperti ini hanya membikin-bikin kerepotan yang tak perlu.
Semacam kesia-siaan. Bahkan penyiksaan diri.
Tentu cerita bisa berbeda
jika saja ada sepeda. Pematang penuh jebakan lumpur itu bisa kuhindari dengan
sedikit memutar menyusuri jalan desa. Tapi, sejak kutahu bahwa sepeda bekas yang
butut saja harganya lima puluh ribu perak, aku berhenti memikirkannya.
Untungnya kepala sekolah tak mengharuskan guru honorer, guru bantu,
sepertiku bersepatu. Akupun bisa mengajak sandal lili-ku bertemu 47 murid kelas
enam yang bertumpuk di kelas paling ujung kiri itu. Setiap hari. Mereka
benar-benar bertumpuk di ruang kelas darurat yang sempit itu.
Tapi
bagiku, pintu kelas itu adalah celah menuju kebahagiaan. Memasukinya membuatku
bertemu mata-mata yang haus dan berharap tetapi juga kuyu dihantam kemiskinan.
Aku selalu bahagia setiap kali kekuyuan itu lenyap sesaat tertelan kegembiraan
menemukan hal-hal baru dari pelajaran kelas. Dari hari ke hari. Dari pukul 7:15
pagi hingga Dzuhur lepas pergi dan Asar hampir menjemput.
Selalu saja
terbit rasa senang melihat mata-mata itu menjadi sedikit berkilat setiap kali
kukatakan, "Negara kita Indonesia, besok akan menjadi lebih baik jika kita
warganya bisa memelihara nurani kita. Begitu juga Sukamanah, desa kita."
Kadang-kadang anak-anak itu merepotkanku dengan pertanyaan mereka.
Mereka kudorong agar tak berpuas diri sekadar lulus SD dan lanjut bersekolah ke
SMP di kota kecamatan. Hardi, salah seorang yang terpandai pun bertanya,
mengutip kata-kata Ayahnya. "Untuk apa melanjutkan sekolah dan meninggalkan
sawah-sawah kami? Bukankah sekolah tinggi hanya akan membikin kami membenci
sawah tapi juga tak menyediakan pekerjaan lain, lalu membikin kita hanya bisa
luntang-lantung menyusahkan orang tua seperti anak-anak kepala dusun itu?"
Maka akupun menjawabnya. "Bersekolah bukanlah untuk mencari pekerjaan,
apalagi membenci sawah. Kita bisa bersekolah tinggi sambil tetap mencintai
kampung kita, sawah-sawah kita. Bersekolah itu untuk membuat kita tak jadi
orang-orang yang tak mengerti keindahan walaupun memiliki mata, tak mendengarkan
kebaikan walaupun memiliki telinga, tak membela kebenaran walaupun memiliki
hati, tak pernah terharu dan tak bersemangat."
"Pak Sobarudin, bisa ke
kantor saya sebentar?" Suara Pak Dudung, kepala sekolah, tiba-tiba menyeruput
telingaku dari arah punggung.
"Ada undangan penting dari kabupaten,"
katanya lagi, sebelum sempat kukeluarkan sepatah katapun.
"O ya." Aku
membuntutinya.
"Ini undangan untuk Pak Sobar. Semua guru honorer
se-kecamatan dikumpulkan bertemu Bupati minggu depan."
Aku segera
membukanya. Beberapa kata segera berpindah dari kertas itu ke kepalaku. Minggu.
15 November. Siang. Aula Kecamatan. Bupati. Realisasi Perbaikan Nasib Guru
Wiyata Bakti.
***
Hari Minggu ini sebenarnya sama saja seperti
hari-hari Minggu lainnya. Ia terasa berbeda hanya lantaran inilah hari Minggu
pertama di musim penghujan. Kampung kami menjadi lebih sibuk. Hampir semua rumah
memboyong seluruh isinya ke sawah, memulai upacara hidup yang itu-itu juga.
Bercocok tanam. Mengutang pupuk ke koperasi Desa. Memimpikan panen padahal sawah
baru saja mulai digarap. Menghitung kerugian yang pasti datang karena ongkos
bersawah selalu saja lebih tinggi dari harga jual padi. Menyisakan hasil panen
untuk bertahan hidup ala kadarnya selama kemarau yang belum-belum sudah
mengintip mengendap hendak kembali.
Siang ini aku harus ke kecamatan,
berjalan kaki tiga kilo ke arah barat daya. Sedari pagi buta, ketika matahari
masih terbungkus kabut, pasti sudah banyak orang mengepung kantor kecamatan,
untuk melihat wajah Pak Bupati yang katanya masih muda dan rajin membagi senyum
itu.
"Kang. Jangan lupa mampir ke rumah Bi Mumun." Anah mengingatkanku
ketika setengah badanku sudah tertelan pintu, hendak pergi.
"Ya."
Sepulang dari kecamatan Aku memang harus mampir ke pabrik tempe istri
almarhum pamanku itu. Menjemput kulit kacang kedelai. Anah biasa mencampurnya
dengan terigu, bawang putih, garam dan sedikit merica, lalu menyulapnya menjadi
makanan penganan bahkan kadang-kadang lauk-pauk utama. Dan kami menyukainya.
Apalagi jika tersedia juga cobek favorit kami. Cobek bohong. Penampilannya
memang seperti cobek tapi sebetulnya bukan juga. Ia hanya kuah belaka, tanpa
jengkol atau ikan lele, atau apapun. Di sana hanya ada cabe merah yang panjang
menjuntai-juntai mengundang gigitan. Orang-orang di kampung kami pun menyebutnya
cobek bohong. Menu semacam itu adalah kemewahan besar di rumah kami, apalagi di
masa-masa darurat.
Tapi hidup kami selalu saja darurat. Selepas SPG,
lima tahun lalu, tak ada pekerjaan menjemputku. Semestinya aku jadi guru SD.
Tapi itulah. Setiap tahun, selalu saja kemestian itu terganjal ujian penerimaan
guru. Aku tak pernah lulus. Bukan sulitnya soal ujian yang sebenarnya menjadi
masalahku, tapi selalu saja aku tak mampu menyediakan amplop, dengan isi mesti
di atas satu juta rupiah, untuk Kepala Kantor Departemen. Kalau saja amplop itu
tersedia, Pak Kakandep tentu akan segera mengurus kelulusanku. Tapi, dari mana
kudapat uang sebanyak itu? Melihatnya saja aku tak pernah.
Untungnya,
tenagaku masih terpakai di kampung. Membantu Bi Mumun di pabrik tempe. Membantu
panen Kang Soleh dan tetangga-tetangga dekat lainnya. Membantu menjagal sapi
menjelang Hari Raya Kurban. Membantu mencukur rumput kuburan desa setiap
menjelang bulan puasa. Mengambil air dari sumur tua yang tak pernah kering di
balik bukit untuk kepala dusun, tiap kali kemarau menjadi-jadi. Mengecat dan
membetulkan pagar masjid menjelang lebaran.
Tenagaku tak selalu dihargai
dengan uang. Kadang-kadang diganjar hasil cocok-tanam, padi, atau makanan. Tapi
semuanya terasa sangat membantu. Adapun satu-satunya sumber penghasilan tetapku
adalah honor sebagai guru wiyata bakti itu, guru honorer, guru bantu, sebesar 75
ribu setiap bulan.
Uang itu jauh dari cukup dan selalu habis untuk
melunasi utang-utang belanja dapur kami ke warung Ceu Nenden di pertigaan jalan
desa itu. Untungnya, jodohku adalah Anah yang tak pernah menuntut. Sejak
kunikahi empat tahun lalu, tak sekalipun Anah mengeluhkan keadaan kami. Di
tengah kesusahan yang terus menguntit kami, Anah selalu melayaniku dengan baik.
Siang dan malam hari.
Anah lah yang justru mengajariku untuk selalu
bersyukur atas apapun yang kami peroleh. Mengajari tetap bersyukur sekalipun
sampai saat ini kami belum juga beroleh momongan. Kami tak pernah membebani
Tuhan dengan macam-macam tuntutan. Cukup saja lah kami tahu bahwa Tuhan tak
pernah tidur.
Pertemuan di aula kecamatan hari ini sebetulnya bukan yang
pertama. Dua tahun lalu, semua guru honorer juga pernah dikumpulkan. Di aula
sama. Hanya saja, waktu itu kami tak seberuntung sekarang. Dulu, yang yang
datang bukan Bupati tetapi Kakandep dari kabupaten.
Selepas pertemuan
itu, rasa syukurku bertambah-tambah. Sejumlah guru honorer tampaknya memang
lebih beruntung dariku. Mereka bisa menambah penghasilan dengan menarik ojek di
pasar kecamatan. Ada juga yang membuka warung atau kios koran, komik-komik agama
dan teka- teki silang. Tapi jauh lebih banyak yang bernasib lebih buruk. Pak
Kosim dari desa di ujung utara itu hanya digaji 25 ribu per bulan. Ibu Eti, guru
sedesaku, tak punya gaji sama sekali. Ia hanya bisa menunggu hadiah hasil panen
dari wali murid di kelasnya. Padahal, panen sering diganggu hama. Pak Komarudin,
yang ternyata hanya terpisah tiga kampung denganku, digaji 25 ribu ditambah uang
BP3 sebesar 1.500 rupiah dari murid-murid di kelasnya. Muridnya hanya ada 12
orang. Miskin semua. Mereka lebih sering menunggak ketimbang melunasinya.
Di pertemuan dua tahun lalu itu pula kukenal Pak Asep Saepudin yang
kepandaian bicaranya mengingatkanku pada Kiai Ishak, khatib masjid kecamatan. Ia
guru di kota kecamatan. Pendiri dan pemimpin Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli
Anak Bangsa (LSMPAB) yang katanya berusaha mengurusi nasib guru-guru bantu
seperti kami. Dari Pak Asep pula aku tahu betapa pemerintah memang kekurangan
guru SD dan membutuhkan kami. Propinsi kami saja, katanya, kekurangan 33.768
guru SD. Sebanyak 17.877 di antaranya adalah guru kelas. Maka, lagi-lagi menurut
Pak Asep, jika guru-guru honorer di seluruh Jawa Barat berhenti, hampir 18 ribu
kelas akan terlantar.
"Kami para guru honorer bukanlah orang-orang yang
disumbang pemerintah. Kamilah yang membantu pemerintah menyelenggarakan
pendidikan di tingkat dasar. Kalau tak ada kami, pemerintah kerepotan. Jadi,
bukan kami yang harus berterima kasih, tetapi pemerintahlah yang semestinya
berterima kasih dan memperbaiki nasib kami," begitulah antara lain yang
dikatakan Pak Asep di pertemuan itu. Hadirin bersorak bertepuk tangan. Wajah Pak
Kakandep kulihat memerah delima.
Boleh jadi, suara Pak Asep sampai juga
ke telinga Pak Bupati. Buktinya hari ini Pak Bupati datang dan akan mengurus
"Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti." Seperti tertulis di undangan.
Benar
saja. Kantor kecamatan seperti gula dikepung semut. Halaman luarnya disesaki
orang-orang. Mereka benar-benar ingin melihat wajah Pak Bupati yang murah senyum
itu rupanya.
Setelah kulipat-lipat badan, menyelusup di tengah
orang-orang yang berkerumun, bertukar keringat dengan mereka, akhirnya sampai
juga aku di depan aula itu. Kuacungkan kertas undangan memberi tahu bahwa aku
guru honorer yang memang berhak masuk aula.
"Nah. ini ada satu lagi."
Seseorang yang berseragam coklat muda tiba- tiba setengah menghardikku sambil
menunjuk-nunjuk ke arah sandal dan kakiku, membuatku bingung tak mengerti.
"Mari. Saudara harus duduk di ruang terpisah. Tidak di aula. Ini
instruksi Bapak-Bapak di kantor kabupaten. Yang masuk aula harus pakai sepatu.
Untuk menghormati Pak Bupati!"
Aku mulai mengerti. Semacam amarah
beranak-pinak di dadaku. Tak boleh masuk aula hanya karena tak bersepatu? Apa
yang salah dengan sandal lili yang baru kucuci tadi pagi ini? Sepatu?
Menghormati Bupati?
Tapi mata tak bersahabat orang-orang berseragam
coklat muda itu dengan cepat menggugurkan anak-pinak kemarahanku. Aku pun
membuntuti mereka. Masuk ke ruang di sebelah aula. Di sana sudah ada beberapa
puluh orang lainnya. Semuanya tak bersepatu. Moncong pengeras suara mengintip
dari jendeal, memelototi kami. Aku tak sendiri. Kutemukan juga beberapa wajah
tak senang. Menahan marah.
Duh Anah.. Maafkan aku. Dari sini, aku tak
bisa melihat wajah Pak Bupati. Aku tak bisa menjaga janjiku untuk sepulang nanti
bercerita apakah benar Pak Bupati muda itu memang selalu tersenyum.
***
"Syukurlah Kang. Syukur."
Hanya itu yang keluar dari mulut kecil
Anah ketika kuceritakan apa yang kudengar dari Pak Bupati di pertemuan itu. Pak
Bupati berjanji memperbaiki nasib guru-guru honorer di kecamatan kami yang
ternyata jumlahnya makin banyak. Ratusan. Pak Bupati akan segera melakukan
sesuatu. Bertahap. Sesuai kemampuan kabupaten. Untuk memperbaiki kesejahteraan
guru-guru honorer. Dimulai dari yang penting.
Hampir setiap hari kampung
kami diguyur hujan. Pematang sawah menuju sekolah itu pun makin menuntut
ketrampilan-ketrampilan sirkusku. Sudah kubatalkan pula rencana memperbaiki
sepatu jebolku ke pasar kecamatan. Sepasang sepatu, barang mewah yang tak
berguna dan merepotkan itu, kini tercampak bersama timbunan sampah di kebun
belakang. Tali keduanya saling terikat. Teronggok. Seperti sepasang anak kembar
yang mati bunuh diri.
***
Dua minggu sudah pertemuan dengan Pak
Bupati itu lewat. Hari ini, langit di atas kampung kami bolong. Air pun jatuh
tercurah deras. Petir dan angin besar mengecewakan anak-anak Kang Soleh.
Rengekan mereka untuk bermain bersama hujan, bertepuk sebelah tangan. Kulihat
mereka duduk-duduk di beranda, memandangi hujan dengan penuh hasrat.
Satu sosok muncul dari belokan jalan desa. Setengah berlari. Setangkai
daun pisang memayungi kepalanya - kurasa, dengan percuma. Ia tetap kuyup juga.
Petir dan angin seperti mendorong-dorongnya untuk bergegas. Badan kuyupnya
dibungkukkan, sepertinya melindungi sesuatu di dadanya. Sosok itu mendekat. Ia
tak menyusuri jalan desa yang menikung ke kiri. Tapi ke rumahku. Persis ke
arahku.
Ternyata Mang Maman, penjaga SD Inpresku.
"Silakan masuk
Mang. Aduh. Hujan besar begini kok memaksakan diri datang ke sini."
"Saya diminta Pak Dudung mengantar kiriman untuk Pak Sobar. Katanya
penting. Dari Pak Bupati. Ada juga suratnya."
Kubiarkan Kang Maman
berdiri di pintu. Badannya kuyup. Seperti kerupuk tercelup kuah sayur.
Kuambil kardus itu. Kubuka suratnya. Benar. Dari Pak Bupati. Pendek
saja. Dari kertas, kata-kata berat itu berpindah ke kepalaku. Wujud kepedulian
pemerintah. Usaha nyata membantu harkat guru honorer. Menaikkan citra, wibawa,
dan martabat Guru Wiyata Bakti. Untuk masa depan dunia pendidikan yang lebih
baik.
Maka, kubuka kardus itu. Isinya: sepasang sepatu.
Columbus, Minggu, 21 Maret 2004
Keterangan:
-
Sandal lili adalah sandal terbuat
dari plastik, bukan sandal jepit, dengan model yang biasanya standar, dengan
pilihan warna- warna - biru, merah, hijau, coklat, hitam - yang kusam.
-
SPG adalah Sekolah Pendidikan Guru.
Sekolah untuk menghasilkan calon guru-guru sekolah dasar ini sekarang sudah
dilikuidasi pemerintah.
-
Guru Wiyata Bakti adalah sebutan
resmi yang dipakai pemerintah untuk para guru honorer yang bukan pegawai negeri.
Sebelum masa otonomi daerah, sebagian dari mereka memperoleh honor alakadarnya
dari pemerintah pusat. Setelah otonomi daerah, mereka menjadi beban (yang
diabaikan) dari pemerintah daerah.
-
Pernyataan bahwa sekolah adalah
tempat mendidik anak murid untuk tak menjadi "orang-orang yang tidak mengerti
keindahan walaupun memiliki mata, tidak mendengarkan irama musik walaupun
memiliki telinga, tidak memiliki kebenaran walaupun memiliki hati, tidak pernah
terharu dan tidak bersemangat," adalah kutipan pernyataan Mr. Kuroyanagi,
pengajar Sekolah Tomoe dalam buku termashur Tetsuko Kuroyanagi, Toto-Chan: Si
Gadis Kecil di Tepi Jendela.