GEBYAR MILAD MAN 2 KOTA BEKASI

Agenda tahunan yang dilaksanakan untuk memeriahkan Milad MAN 2 KOTA BEKASI dan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

LDKR (Latihan Dasar Kepemimpinan Rohis)

Kegiatan untuk melatih dan membangkitkan jiwa kepemimpinan bagi anggota Rohis MAN 2 Kota Bekasi.

Nasyid Asma Voice

Sebuah Tim Nasyid yang Bergenre Acapella.

Masa Orientasi Siswa Tahun 2012

Sebuah agenda yang rutin dilaksanakan untuk menjaring anggota-anggota baru.

Latihan Dasar Kepemimpinan Rohis 2014

Agenda rutin yang dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan bagi seluruh anggota Rohis.

Jumat, 31 Januari 2014

Kita Adalah Bersaudara



Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. 49 ; 10)

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmaiin, "Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat" (QS. Al Hujurat (49) ayat 10 ).

Saudara-saudaraku, sahabat-sahabat sekalian Innamal mu’minuuna ikhwah, orang yang beriman itu adalah bersaudara bukan musuh jika terjadi sedikit perbedaan seperti perbedaan qunut, ushali, atau jumlah rakaat shalat tarawih, hal itu tidak harus menjadi musuh, karena musuh kita adalah kaum dzolimin.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim". (QS. Al Hujurat(49) ayat 11) ayat ini membahas mengenai larangan mengejek satu kaum terhadap kaum yang lain yang sama-sama punya iman walaupun misalnya berbeda partai akan tetapi sama-sama beriman kepada ALLAH SWT,tidak boleh saling mengejek. Begitu juga jika sama-sama kelompok majelis ta’lim, sesama ustadz saling mengejek? Naudzubillah. Lalu kenapa disini disorot wanita harus mampu mengendalikan ucapannya. Hal ini kemungkinan disebabkan pekerjaannya kurang banyak sehingga waktu yang ada digunakan untuk mengobrol. Jadi jelas sekali Al Quran melarang wanita atau akhwat jangan suka mengejek yang lain karena bisa jadi wanita yang kita ejek itu lebih mulia dihadapan ALLAH daripada yang mengejek, ini harus hati-hati karena ALLAH-lah Yang Melarang Mengolok-olok, selain itu tidak boleh kita menghina diri sendiri, karena orang yang mengejek diri sendiri dapat dikatakan kufur nikmat, jangan suka membanding-bandingkan dengan orang lain, karena semuanya ALLAH-lah Yang Menciptakan.

Jangan suka mengolok-olok atau dengan panggilan yang buruk misal kafir, fasik, munafik, monyet atau panggilan yang tidak baik yang berhubungan dengan Iman atau menghina orang tua orang lain karena dengan begitu berarti sama saja dengan menghina orang tua kita,tetapi panggilah dengan gelaran-gelaran yang baik.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka , sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat(49) ayat 12 )

Prasangka itu ada dua macam; husnudzon atau Suudzon, ada baik sangka dan ada buruk sangk, ketahuilah yang sebagian prasangka itu adalah dosa, yang tidak boleh itu adalah Suudzon itu, misalnya kita mengatakan kepada rekan kita tentang rekan kita yang lain “hey hati-hati si fulan suka buruk sangka kepada kita ? sebenarnya itu sudah termasuk berburuk sangka kepada orang lain. Oleh karena itu kita harus waspada.

Tapi husnudzon pun jatuhnya hanya kepada orang yang beriman, misalkan di bis ada yang membuka dompet kita , lalu kita berbaik sangka “ oh mungkin dia akan menghitungkan uang saya…”, itu tentu baik sangka yang konyol karena pasti orang itu adalah pasti copet. kepada orang yang beriman jangan sering melakukan “walaa tajassasu” suka mengorek-ngorek aib, suka mencari-cari kesalahan kecuali untuk tindakan keadilan pencegahan kemunkaran , saudaraku dengan menceritakan keburukan orang lain berarti kita telah ghibah, ghibah itu batasannya kalau ucapan yang diceritakan membuat orang sakit hati andaikata mendengarnya

"Hai manusia , sesungguhnya Kami Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Menjadikan kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling  mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al Hujurat(49) ayat 13)

Manusia diciptakan berbagai suku,berbagai bangsa semua itu ditujukan agar saling kenal-mengenal, kita jangan membenci orang Amerika karena orang Amerika tidak pesan untuk dilahirkan di sana, di Amerika yang sholeh ada yang bathil pun ada, persis sekali di kita yang sholehnya hanya sedikit, darimana kita tahu di Indonesia yang sholehnya sedikit?  karena kalau di kita yang orang yang sholehnya banyak tentu tidak negara kita bangkrut seperti ini.

Dalam kehidupan ini tidak boleh saling menghina karena perbedaan Negara, ada yang diciptakan di Amerika, Cina, jangan menghina negaranya ! yang buruk itu adalah keputusan-keputusan politiknya, ketidakadilannnya dalam menyelesaikan suatu masalah. Pernikahan tidak boleh terhadang oleh perbedaan suku, karena semuanya sama-sama diciptakan Allah SWT. Ketika zaman Rasulullah Muhammad SAW, Bilal yang hitam legam tetap mulia disisisi Allah, lalu Salman Al Farisi dari Persia tetap saja mulia disisi Allah, sebenarnya perbedaan lintas Negara, suku, bangsa merupakan nilai Ukhuwah inna akromakum ‘inndalloohi attqookum yang mulia bukan warna, kulit, jabatan, gelar, pangkat,akan tetapi yang shleh dan taat pada ALLAH SWT itulah yang mulia. Wallahua’lam.

(and/mikha/aef)[manajemenqolbu.com]***

Rabu, 29 Januari 2014

Berantas Kejahatan dengan Kebaikan


Oleh : Nasril Zainun

Ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan Mekah pada tahun 13 H, kaum kafir Quraisy dilanda rasa takut lantaran kejahatan mereka terhadap Rasulullah dan umat Islam di masa lampau. Mereka menduga akan menerima pembalasan jahat dari umat Islam.

Ternyata Rasulullah SAW mencanangkan hari itu sebagai hari pemberian maaf. Beliau mengumumkan tiga cara untuk aman bagi kaum Quraisy Mekah, satu di antaranya adalah berlindung di rumah Abu Sofyan. Abu Sofyan sebelum itu dikenal sebagai tokoh Quraisy yang sudah amat banyak berbuat jahat kepada Rasulullah. Tokoh jahat lainnya adalah Abu Jahal dan Abu Lahab yang saat itu sudah meninggal dunia.

Selanjutnya, Rasulullah SAW mengumpulkan semua tentara Islam dalam sebuah barisan dan memanggil Abu Sofyan. Rasulullah menyatakan bahwa mulai hari itu mengangkat Abu Sofyan sebagai pimpinan tentara Islam yang sedang berbaris di depannya. Rasa takut dan kecut di dada Abu Sofyan dan kaum kafir Quraisy berubah menjadi lega dan haru kendati masih bercampur rasa malu.

Rasulullah SAW dan umat Islam ternyata tidak membalas kejahatan kaum kafir Quraisy dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, Rasulullah memperlakukan mereka secara baik dan manusiawi. Memang, begitulah sebenarnya tuntunan Allah SWT. Firman-Nya: ''Tidaklah sama kejahatan dan kebaikan.

Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang baik, sehingga orang yang bermusuhan antara engkau dan dia seolah-olah teman yang setia.'' (As-Sajadah: 34).
Memang benar, perlakuan baik itu telah membuat Abu Sofyan segera menarik tangan Rasulullah SAW dan mengucapkan dua Kalimat Syahadat untuk memeluk Islam. Langkah Abu Sofyan diikuti orang-orang kafir lainnya.

Saat itulah turun surat An-Nashr: ''Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah (Islam) berbondong-bondong. Maka, bertasbihlah dengan memuji Tuhan engkau dan minta ampunlah. Sesungguhnya Allah itu Maha Penerima tobat.''

Dari situ terlihat bahwa Islam sangat antikejahatan. Islam mengajarkan umatnya untuk memberantas kejahatan dengan kebaikan. Sehingga, kejahatan itu tidak berlanjut dan bahkan membuahkan hubungan baik antara pelaku kejahatan dan korban kejahatan. Terbukti dengan balasan baik dari Rasulullah, Abu Sofyan memeluk Islam. Di belakang hari anak cucu Abu Sofyan menjadi pemimpin-pemimpin Islam.

Bila kejahatan diberantas dengan kejahatan, akan semakin memperbanyak kejahatan. Berlaku jahat untuk menolak kejahatan berarti praktik balas dendam atau mengambil peluang untuk berbuat jahat. Maka, antara pihak yang berbuat jahat dan pihak yang memberantas kejahatan, sama jeleknya.

Maka, sulit dipahami memberantas teroris dengan perbuatan teror. Kendati dengan dalih menumpas teroris, perbuatan teror tidak dapat dihalalkan. Teror dibalas teror berarti menggandakan kejahatan.

Selasa, 28 Januari 2014

Sepatu



Eep Saefulloh Fatah 
Publikasi : 11-05-2004

KotaSantri.com Hujan pertama akhirnya jatuh juga. Selepas musim kemarau yang terlampau panjang, hujan pertama selalu disambut di kampung kami dengan pesta.

Ketika hujan mulai menderas, anak-anak Kang Soleh kulihat segera berlarian keluar, bertelanjang dada. Teriakan-teriakan kegembiraan mereka, gemuruh curahan air dari langit dan gelegar petir, bercengkrama sahut menyahut di tegalan depan. Ketika hujan mereda, mereka pulang dengan bibir membiru dan badan menggigil bergetar. Tapi, mata mereka memancarkan kegembiraan.

Wa Sunta terlihat melintas di jalan desa menggiring dua ekor kerbau kurusnya. Ketiganya berjalan gontai, tak terlihat tergesa, dipeluk petir dan hujan. Gambar mereka melamat ketika menjauh. Hujan dan petir dengan akrab mengantar mereka hingga lenyap diterkam belokan.

Sejak masih gerimis, Anah, istriku, sudah membopong gentong-gentong air dari dapur, dengan sigap membawanya keluar. Anah berpesta dengan caranya sendiri. Pada tiap hujan pertama, ia selalu membersihkan gentong-gentong air kami yang kerontang selama kemarau, sambil membiarkan dirinya sendiri berlama-lama dicumbu hujan. Lekuk tubuhnya segera terbentuk oleh baju dasternya yang basah, membuatku tiba-tiba menginginkan malam segera datang.

Aku sendiri, pada setiap hujan pertama seperti ini tak pernah lepas dari ritual pesta yang itu-itu juga. Duduk mencangkung di depan jendela depan. Membuka hidung lebar-lebar membaui tanah pelataran yang terperawani tetes demi tetes air hujan pembukaan. Menghanyutkan diri dalam aroma legit bau tanah tersiram air. Ah, sembilan bulan sudah kurindukan bau ini.

Datangnya musim penghujan membikin kampung kami siuman dari mati suri panjang. Sejak sungai Cipamingkis ditambang batunya, digali pasirnya, dan akhirnya mati, sawah-sawah di kampung kami kehilangan tempat menyusu di musim kering. Semua sawah menjadi tadah hujan saja.

Maka, kemarau adalah bencana. Berita duka yang tak sudi kami dengar tapi selalu saja tiba. Di setiap kemarau, sawah-sawah mengering, merekah, retak terbelah-belah. Ketika kemarau berlarut-larut tak berujung, kampung kami kehilangan akal dan akhirnya hanya berpaling pada sebaris harapan: Semoga hujan bergegas datang dan membunuh kemarau laknat itu segera.

***

Bagi guru sepertiku, musim penghujan sebetulnya tak punya terlalu banyak arti. Bahkan, selalu saja ia menghadiahiku kerepotan-kerepotan baru. Setiap hari, pergi dari rumah ke SD Inpres di seberang bukit itu, aku mesti menggulung celana panjangku tinggi- tinggi, tak membiarkan lidah air berlumpur menjilat celanaku. Celana layak satu-satunya.

Kedua tangangku pun dibuat sibuk. Tangan kanan menjinjing tas. Tangan kiri, yang terbiasa menganggur, punya pekerjaan baru: menjinjing sandal. Aku, bak pemain sirkus, mesti menjaga keseimbangan di sepanjang pematang, bersiasat untuk tak tergelincir tercebur ke sawah berair berlumput-lumpur.

Kerepotanku tak usai di situ. Sebelum ke kelas atau ruang guru, aku tentu saja mesti ke parit di belakang gedung sekolah itu. Mencuci kaki. Menurunkan gulungan celana. Lalu menyematkan sandal ke kedua kakiku yang kuyup. Betapa merepotkannya jika aku bersepatu.

Ketika sol sepatuku, sepatu terakhirku, jebol di tengah kemarau tahun lalu, aku sempat meratapinya. Tapi, ketika musim penghujan seperti ini datang, segera kutahu bahwa barang mewah semacam itu kadang kala tak punya guna. Di pasar kecamatan, sepatu termurah saja harganya 20 ribu!

Bersepatu pergi pulang mengajar di musim penghujan seperti ini hanya membikin-bikin kerepotan yang tak perlu. Semacam kesia-siaan. Bahkan penyiksaan diri.

Tentu cerita bisa berbeda jika saja ada sepeda. Pematang penuh jebakan lumpur itu bisa kuhindari dengan sedikit memutar menyusuri jalan desa. Tapi, sejak kutahu bahwa sepeda bekas yang butut saja harganya lima puluh ribu perak, aku berhenti memikirkannya.

Untungnya kepala sekolah tak mengharuskan guru honorer, guru bantu, sepertiku bersepatu. Akupun bisa mengajak sandal lili-ku bertemu 47 murid kelas enam yang bertumpuk di kelas paling ujung kiri itu. Setiap hari. Mereka benar-benar bertumpuk di ruang kelas darurat yang sempit itu.

Tapi bagiku, pintu kelas itu adalah celah menuju kebahagiaan. Memasukinya membuatku bertemu mata-mata yang haus dan berharap tetapi juga kuyu dihantam kemiskinan. Aku selalu bahagia setiap kali kekuyuan itu lenyap sesaat tertelan kegembiraan menemukan hal-hal baru dari pelajaran kelas. Dari hari ke hari. Dari pukul 7:15 pagi hingga Dzuhur lepas pergi dan Asar hampir menjemput.

Selalu saja terbit rasa senang melihat mata-mata itu menjadi sedikit berkilat setiap kali kukatakan, "Negara kita Indonesia, besok akan menjadi lebih baik jika kita warganya bisa memelihara nurani kita. Begitu juga Sukamanah, desa kita."

Kadang-kadang anak-anak itu merepotkanku dengan pertanyaan mereka. Mereka kudorong agar tak berpuas diri sekadar lulus SD dan lanjut bersekolah ke SMP di kota kecamatan. Hardi, salah seorang yang terpandai pun bertanya, mengutip kata-kata Ayahnya. "Untuk apa melanjutkan sekolah dan meninggalkan sawah-sawah kami? Bukankah sekolah tinggi hanya akan membikin kami membenci sawah tapi juga tak menyediakan pekerjaan lain, lalu membikin kita hanya bisa luntang-lantung menyusahkan orang tua seperti anak-anak kepala dusun itu?"

Maka akupun menjawabnya. "Bersekolah bukanlah untuk mencari pekerjaan, apalagi membenci sawah. Kita bisa bersekolah tinggi sambil tetap mencintai kampung kita, sawah-sawah kita. Bersekolah itu untuk membuat kita tak jadi orang-orang yang tak mengerti keindahan walaupun memiliki mata, tak mendengarkan kebaikan walaupun memiliki telinga, tak membela kebenaran walaupun memiliki hati, tak pernah terharu dan tak bersemangat."

"Pak Sobarudin, bisa ke kantor saya sebentar?" Suara Pak Dudung, kepala sekolah, tiba-tiba menyeruput telingaku dari arah punggung.

"Ada undangan penting dari kabupaten," katanya lagi, sebelum sempat kukeluarkan sepatah katapun.

"O ya." Aku membuntutinya.

"Ini undangan untuk Pak Sobar. Semua guru honorer se-kecamatan dikumpulkan bertemu Bupati minggu depan."

Aku segera membukanya. Beberapa kata segera berpindah dari kertas itu ke kepalaku. Minggu. 15 November. Siang. Aula Kecamatan. Bupati. Realisasi Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti.

***

Hari Minggu ini sebenarnya sama saja seperti hari-hari Minggu lainnya. Ia terasa berbeda hanya lantaran inilah hari Minggu pertama di musim penghujan. Kampung kami menjadi lebih sibuk. Hampir semua rumah memboyong seluruh isinya ke sawah, memulai upacara hidup yang itu-itu juga. Bercocok tanam. Mengutang pupuk ke koperasi Desa. Memimpikan panen padahal sawah baru saja mulai digarap. Menghitung kerugian yang pasti datang karena ongkos bersawah selalu saja lebih tinggi dari harga jual padi. Menyisakan hasil panen untuk bertahan hidup ala kadarnya selama kemarau yang belum-belum sudah mengintip mengendap hendak kembali.

Siang ini aku harus ke kecamatan, berjalan kaki tiga kilo ke arah barat daya. Sedari pagi buta, ketika matahari masih terbungkus kabut, pasti sudah banyak orang mengepung kantor kecamatan, untuk melihat wajah Pak Bupati yang katanya masih muda dan rajin membagi senyum itu.

"Kang. Jangan lupa mampir ke rumah Bi Mumun." Anah mengingatkanku ketika setengah badanku sudah tertelan pintu, hendak pergi.

"Ya."

Sepulang dari kecamatan Aku memang harus mampir ke pabrik tempe istri almarhum pamanku itu. Menjemput kulit kacang kedelai. Anah biasa mencampurnya dengan terigu, bawang putih, garam dan sedikit merica, lalu menyulapnya menjadi makanan penganan bahkan kadang-kadang lauk-pauk utama. Dan kami menyukainya. Apalagi jika tersedia juga cobek favorit kami. Cobek bohong. Penampilannya memang seperti cobek tapi sebetulnya bukan juga. Ia hanya kuah belaka, tanpa jengkol atau ikan lele, atau apapun. Di sana hanya ada cabe merah yang panjang menjuntai-juntai mengundang gigitan. Orang-orang di kampung kami pun menyebutnya cobek bohong. Menu semacam itu adalah kemewahan besar di rumah kami, apalagi di masa-masa darurat.

Tapi hidup kami selalu saja darurat. Selepas SPG, lima tahun lalu, tak ada pekerjaan menjemputku. Semestinya aku jadi guru SD. Tapi itulah. Setiap tahun, selalu saja kemestian itu terganjal ujian penerimaan guru. Aku tak pernah lulus. Bukan sulitnya soal ujian yang sebenarnya menjadi masalahku, tapi selalu saja aku tak mampu menyediakan amplop, dengan isi mesti di atas satu juta rupiah, untuk Kepala Kantor Departemen. Kalau saja amplop itu tersedia, Pak Kakandep tentu akan segera mengurus kelulusanku. Tapi, dari mana kudapat uang sebanyak itu? Melihatnya saja aku tak pernah.

Untungnya, tenagaku masih terpakai di kampung. Membantu Bi Mumun di pabrik tempe. Membantu panen Kang Soleh dan tetangga-tetangga dekat lainnya. Membantu menjagal sapi menjelang Hari Raya Kurban. Membantu mencukur rumput kuburan desa setiap menjelang bulan puasa. Mengambil air dari sumur tua yang tak pernah kering di balik bukit untuk kepala dusun, tiap kali kemarau menjadi-jadi. Mengecat dan membetulkan pagar masjid menjelang lebaran.

Tenagaku tak selalu dihargai dengan uang. Kadang-kadang diganjar hasil cocok-tanam, padi, atau makanan. Tapi semuanya terasa sangat membantu. Adapun satu-satunya sumber penghasilan tetapku adalah honor sebagai guru wiyata bakti itu, guru honorer, guru bantu, sebesar 75 ribu setiap bulan.

Uang itu jauh dari cukup dan selalu habis untuk melunasi utang-utang belanja dapur kami ke warung Ceu Nenden di pertigaan jalan desa itu. Untungnya, jodohku adalah Anah yang tak pernah menuntut. Sejak kunikahi empat tahun lalu, tak sekalipun Anah mengeluhkan keadaan kami. Di tengah kesusahan yang terus menguntit kami, Anah selalu melayaniku dengan baik. Siang dan malam hari.

Anah lah yang justru mengajariku untuk selalu bersyukur atas apapun yang kami peroleh. Mengajari tetap bersyukur sekalipun sampai saat ini kami belum juga beroleh momongan. Kami tak pernah membebani Tuhan dengan macam-macam tuntutan. Cukup saja lah kami tahu bahwa Tuhan tak pernah tidur.

Pertemuan di aula kecamatan hari ini sebetulnya bukan yang pertama. Dua tahun lalu, semua guru honorer juga pernah dikumpulkan. Di aula sama. Hanya saja, waktu itu kami tak seberuntung sekarang. Dulu, yang yang datang bukan Bupati tetapi Kakandep dari kabupaten.

Selepas pertemuan itu, rasa syukurku bertambah-tambah. Sejumlah guru honorer tampaknya memang lebih beruntung dariku. Mereka bisa menambah penghasilan dengan menarik ojek di pasar kecamatan. Ada juga yang membuka warung atau kios koran, komik-komik agama dan teka- teki silang. Tapi jauh lebih banyak yang bernasib lebih buruk. Pak Kosim dari desa di ujung utara itu hanya digaji 25 ribu per bulan. Ibu Eti, guru sedesaku, tak punya gaji sama sekali. Ia hanya bisa menunggu hadiah hasil panen dari wali murid di kelasnya. Padahal, panen sering diganggu hama. Pak Komarudin, yang ternyata hanya terpisah tiga kampung denganku, digaji 25 ribu ditambah uang BP3 sebesar 1.500 rupiah dari murid-murid di kelasnya. Muridnya hanya ada 12 orang. Miskin semua. Mereka lebih sering menunggak ketimbang melunasinya.

Di pertemuan dua tahun lalu itu pula kukenal Pak Asep Saepudin yang kepandaian bicaranya mengingatkanku pada Kiai Ishak, khatib masjid kecamatan. Ia guru di kota kecamatan. Pendiri dan pemimpin Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Anak Bangsa (LSMPAB) yang katanya berusaha mengurusi nasib guru-guru bantu seperti kami. Dari Pak Asep pula aku tahu betapa pemerintah memang kekurangan guru SD dan membutuhkan kami. Propinsi kami saja, katanya, kekurangan 33.768 guru SD. Sebanyak 17.877 di antaranya adalah guru kelas. Maka, lagi-lagi menurut Pak Asep, jika guru-guru honorer di seluruh Jawa Barat berhenti, hampir 18 ribu kelas akan terlantar.

"Kami para guru honorer bukanlah orang-orang yang disumbang pemerintah. Kamilah yang membantu pemerintah menyelenggarakan pendidikan di tingkat dasar. Kalau tak ada kami, pemerintah kerepotan. Jadi, bukan kami yang harus berterima kasih, tetapi pemerintahlah yang semestinya berterima kasih dan memperbaiki nasib kami," begitulah antara lain yang dikatakan Pak Asep di pertemuan itu. Hadirin bersorak bertepuk tangan. Wajah Pak Kakandep kulihat memerah delima.

Boleh jadi, suara Pak Asep sampai juga ke telinga Pak Bupati. Buktinya hari ini Pak Bupati datang dan akan mengurus "Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti." Seperti tertulis di undangan.

Benar saja. Kantor kecamatan seperti gula dikepung semut. Halaman luarnya disesaki orang-orang. Mereka benar-benar ingin melihat wajah Pak Bupati yang murah senyum itu rupanya.

Setelah kulipat-lipat badan, menyelusup di tengah orang-orang yang berkerumun, bertukar keringat dengan mereka, akhirnya sampai juga aku di depan aula itu. Kuacungkan kertas undangan memberi tahu bahwa aku guru honorer yang memang berhak masuk aula.

"Nah. ini ada satu lagi." Seseorang yang berseragam coklat muda tiba- tiba setengah menghardikku sambil menunjuk-nunjuk ke arah sandal dan kakiku, membuatku bingung tak mengerti.

"Mari. Saudara harus duduk di ruang terpisah. Tidak di aula. Ini instruksi Bapak-Bapak di kantor kabupaten. Yang masuk aula harus pakai sepatu. Untuk menghormati Pak Bupati!"

Aku mulai mengerti. Semacam amarah beranak-pinak di dadaku. Tak boleh masuk aula hanya karena tak bersepatu? Apa yang salah dengan sandal lili yang baru kucuci tadi pagi ini? Sepatu? Menghormati Bupati?

Tapi mata tak bersahabat orang-orang berseragam coklat muda itu dengan cepat menggugurkan anak-pinak kemarahanku. Aku pun membuntuti mereka. Masuk ke ruang di sebelah aula. Di sana sudah ada beberapa puluh orang lainnya. Semuanya tak bersepatu. Moncong pengeras suara mengintip dari jendeal, memelototi kami. Aku tak sendiri. Kutemukan juga beberapa wajah tak senang. Menahan marah.

Duh Anah.. Maafkan aku. Dari sini, aku tak bisa melihat wajah Pak Bupati. Aku tak bisa menjaga janjiku untuk sepulang nanti bercerita apakah benar Pak Bupati muda itu memang selalu tersenyum.

***

"Syukurlah Kang. Syukur."

Hanya itu yang keluar dari mulut kecil Anah ketika kuceritakan apa yang kudengar dari Pak Bupati di pertemuan itu. Pak Bupati berjanji memperbaiki nasib guru-guru honorer di kecamatan kami yang ternyata jumlahnya makin banyak. Ratusan. Pak Bupati akan segera melakukan sesuatu. Bertahap. Sesuai kemampuan kabupaten. Untuk memperbaiki kesejahteraan guru-guru honorer. Dimulai dari yang penting.

Hampir setiap hari kampung kami diguyur hujan. Pematang sawah menuju sekolah itu pun makin menuntut ketrampilan-ketrampilan sirkusku. Sudah kubatalkan pula rencana memperbaiki sepatu jebolku ke pasar kecamatan. Sepasang sepatu, barang mewah yang tak berguna dan merepotkan itu, kini tercampak bersama timbunan sampah di kebun belakang. Tali keduanya saling terikat. Teronggok. Seperti sepasang anak kembar yang mati bunuh diri.

***

Dua minggu sudah pertemuan dengan Pak Bupati itu lewat. Hari ini, langit di atas kampung kami bolong. Air pun jatuh tercurah deras. Petir dan angin besar mengecewakan anak-anak Kang Soleh. Rengekan mereka untuk bermain bersama hujan, bertepuk sebelah tangan. Kulihat mereka duduk-duduk di beranda, memandangi hujan dengan penuh hasrat.

Satu sosok muncul dari belokan jalan desa. Setengah berlari. Setangkai daun pisang memayungi kepalanya - kurasa, dengan percuma. Ia tetap kuyup juga. Petir dan angin seperti mendorong-dorongnya untuk bergegas. Badan kuyupnya dibungkukkan, sepertinya melindungi sesuatu di dadanya. Sosok itu mendekat. Ia tak menyusuri jalan desa yang menikung ke kiri. Tapi ke rumahku. Persis ke arahku.

Ternyata Mang Maman, penjaga SD Inpresku.

"Silakan masuk Mang. Aduh. Hujan besar begini kok memaksakan diri datang ke sini."

"Saya diminta Pak Dudung mengantar kiriman untuk Pak Sobar. Katanya penting. Dari Pak Bupati. Ada juga suratnya."

Kubiarkan Kang Maman berdiri di pintu. Badannya kuyup. Seperti kerupuk tercelup kuah sayur.

Kuambil kardus itu. Kubuka suratnya. Benar. Dari Pak Bupati. Pendek saja. Dari kertas, kata-kata berat itu berpindah ke kepalaku. Wujud kepedulian pemerintah. Usaha nyata membantu harkat guru honorer. Menaikkan citra, wibawa, dan martabat Guru Wiyata Bakti. Untuk masa depan dunia pendidikan yang lebih baik.

Maka, kubuka kardus itu. Isinya: sepasang sepatu.

Columbus, Minggu, 21 Maret 2004
Keterangan:
  1. Sandal lili adalah sandal terbuat dari plastik, bukan sandal jepit, dengan model yang biasanya standar, dengan pilihan warna- warna - biru, merah, hijau, coklat, hitam - yang kusam.
  2. SPG adalah Sekolah Pendidikan Guru. Sekolah untuk menghasilkan calon guru-guru sekolah dasar ini sekarang sudah dilikuidasi pemerintah.
  3. Guru Wiyata Bakti adalah sebutan resmi yang dipakai pemerintah untuk para guru honorer yang bukan pegawai negeri. Sebelum masa otonomi daerah, sebagian dari mereka memperoleh honor alakadarnya dari pemerintah pusat. Setelah otonomi daerah, mereka menjadi beban (yang diabaikan) dari pemerintah daerah.
  4. Pernyataan bahwa sekolah adalah tempat mendidik anak murid untuk tak menjadi "orang-orang yang tidak mengerti keindahan walaupun memiliki mata, tidak mendengarkan irama musik walaupun memiliki telinga, tidak memiliki kebenaran walaupun memiliki hati, tidak pernah terharu dan tidak bersemangat," adalah kutipan pernyataan Mr. Kuroyanagi, pengajar Sekolah Tomoe dalam buku termashur Tetsuko Kuroyanagi, Toto-Chan: Si Gadis Kecil di Tepi Jendela.

Senin, 27 Januari 2014

Mendidik Dengan Keteladanan


Oleh : Mulyana
Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan.
Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya.
Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar.
Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa menghargai.
Jika anak diperlakukan dengan jujur, ia akan terbiasa melihat kebenaran.

Penggalan ungkapan Dorothy Low Nolte dalam Children Learn What They Live With di atas menggambarkan kepada kita bahwa anak akan tumbuh sebagaimana lingkungan mengajarinya. Jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat baik maka insya Allah dia akan terbiasa untuk selalu berbuat baik. Sebaliknya jika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang mengajarinya berbuat kejahatan, kekerasan maka ia akan tumbuh menjadi pelaku kekerasan dan kejahatan yang baru.

Anak-anak adalah makhluk yang paling senang meniru. Orang tuanya merupakan figur dan idolanya. Bila mereka melihat kebiasaan baik dari ayah ibunya, maka mereka pun akan dengan cepat mencontohnya. Orang tua yang berperilaku buruk akan ditiru perilakunya oleh anak-anak. Anak-anak pun paling mudah mengikuti kata-kata yang keluar dari mulut kita.
Oleh karena itu tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memberikan lingkungan terbaik bagi pertumbuhan anak-anak kita. Salah satunya dengan memberikan keteladanan yang baik buat anak-anak kita. Karena kenangan terindah bagi anak-anak kita adalah kepribadian ayah-ibunya yang benar-benar mulia.

Rasulullah pun terkadang memberikan nasihat secara langsung kepada anak-anak. Rasulullah bersabda, "Hai anak, jagalah semua perintah Allah, niscaya Allah memeliharamu. Periharalah semua perintah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Apabila engkau memohon sesuatu, mohonlah hal itu kepada Allah, dan bila meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya seluruh masyarakat sepakat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka semua manfaat itu hanyalah Allah yang menentukannya, dan bila mereka akan berbuat jahat kepadamu, maka kejahatan itu tidak akan menimpamu kecuali yang telah ditetapkan Allah pula. Terangkat qalam dan keringlah pena." (HR At-Turmuzi)

Dalam konteks realitas sosial bangsa ini, jutaan anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang tidak wajar. Mereka tumbuh di bawah jembatan. Mereka hidup di setiap perempatan jalan. Mereka bergaul dalam lingkungan yang mengajarinya yang lemah akan tertindas dan yang kuat akan menguasai. Bahkan, sebagian mereka masih ada yang hidup dalam pengungsian.

Kondisi tersebut merupakan permasalahan sosial yang harus segera dibenahi. Oleh karena itu kesungguhan pemerintah, elit politik, atau LSM menjadi sebuah keharusan dalam menyelesaikan permasalahan ini. Kita bisa membayangkan bagaimana jadinya bangsa ini jika generasi mendatang merupakan generasi yang tumbuh dari lingkungan yang kurang wajar.

Sabtu, 25 Januari 2014

Membangun Semangat Baru


Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
Cyber MQ - Maha Suci Allah, dzat yang memiliki segalanya. Maha Cermat dan Maha Sempurna, sehingga Ia sama sekali tidak membutuhkan apapun dari hamba-hambanya. Tidak ada kepentingan dan manfaat yang kita berikan, karena Allah secara total dan Maha Sempurna telah mencukupi diri-Nya sendiri. Saudara-saudaraku yang baik, kita tahu bahwa negeri kita ini sudah terlalu banyak dilanda bala bencana, tetapi Insya Allah akan datang suatu masa dimana negeri ini akan bangkit menjadi negeri yang terhormat. Syaratnya adalah :

Kita harus mempunyai semangat, kalau selama ini bangsa kita menjadi babak belur, itu semua bukan karena miskin alamnya, tapi karena miskin hatinya, apa contohnya? Kita ini pelit sekali untuk senyum kepada orang lain dan pelit sekali untuk memaafkan orang lain. Maka jikalau saudara-saudaraku setuju maka Tahun ini akan kita coba jadikan menjadi tahun akur bagi kita semua. Jangan ada lagi pertengkaran, karena buat apa? tidak menghasilkan sesuatu yang berguna, sungguh sedih rasanya melihat negara yang kaya seperti ini bisanya hanya berkelahi. Oleh karena itu kita butuh para pemimpin yang senang akur, kita butuh orang-orang pintar yang bisa akur dan kita butuh juga rakyat yang mau akur. Insya Allah.

Kita harus mempunyai percaya diri, tahun ini kita harus mau menjadi orang yang punya percaya diri. Lihatlah sebagian saudara kita di luar negeri yang malu mengaku dirinya sebagai orang Indonesia, kemudian ada juga sebagian orang yang malu mengaku dirinya sebagai muslim. Percayalah, kalau kita sudah kehilangan percaya diri maka siapa lagi yang mau menghargai diri sendiri? Oleh karena itu agar negara ini bisa makmur dan maju rahasianya adalah jangan pernah minder dan jangan pernah malu sebagai orang Indonesia karena kita adalah bangsa yang besar. Memang kita sekarang sedang diuji dengan keadaan terpuruk seperti saat ini, tetapi kalau kita mau bersatu, Insya Allah bangsa ini akan bangkit!

Kita harus memiliki ketaatan kepada Allah, ingat baik-baik, kita adalah negara yang amat besar dan alamnya sangat kaya. Orang lain untuk menanam pohon membutuhkan waktu 20 tahun tapi di negeri ini hanya membutuhkan waktu 10 tahun, karena sinar mataharinya melimpah ruah, hujan airnya melimpah ruah bahkan kadang-kadang menjadi banjir. Tetapi kenapa terjadi juga banyak bala bencana, longsor, musibah, narkotik, korupsi, segala musibah bertumpuk dinegeri kita ini, Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Saudaraku, mungkin penyebabnya adalah bisa jadi karena selama ini kita sangat sombong dan meremehkan Allah yang menguasai langit dan bumi. Kita merasa hebat, padahal siapa yang hebat? Tidak ada manusia yang hebat, bukankah manusia asalnya dari setetes mani ujungnya jadi bangkai kemana-mana bawa kotoran? Siapa yang hebat di Indonesia? Tidak ada yang hebat, yang hebat adalah kalau kita bisa menggiring masyarakat kita untuk taat pada Allah yang menguasai langit dan bumi. Semoga kita senantiasa memperbaiki diri, dan Insya Allah. Allah akan memberikan yang terbaik pula bagi hambanya.

Saudaraku, Rasulullah sendiri pernah bersabda : "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya". (HR. Tirmidzi). Dengan demikian, akhlaqul karimah tak diragukan lagi merupakan tolak ukur yang paling utama, maka, kita pun dapat bercermin pada diri sendiri, adakah kita telah layak menjadi insan pilihan-Nya. Marilah bertafakur karena siapa tahu kita saat ini tengah menempuh suatu jalan yang dapat mengantarkan kita untuk dapat menggapai mahkota kemuliaan, atau sebaliknya, tengah menuruni lembah menuju kehinaan. Wallahu a'lam.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cyber MQ - Situs Resmi Manajemen Qolbu
© ManajemenQolbu.com »» 2005